Pemkab PPU Kaji Pengembangan Ekowisata Mangrove di Bali untuk Wujudkan Pariwisata Berkelanjutan

Pemerintahan 30 Jan 2025
Pemkab PPU Kaji Pengembangan Ekowisata Mangrove di Bali untuk Wujudkan Pariwisata Berkelanjutan

PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) yang diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesra, Nicko Herlambang, bersama Kadis Pariwisata PPU Andi Wati, Kadis KUKMPerindakop Margono, dan rombongan TP PKK PPU, melakukan audiensi di Kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bali pada Jumat (24/01/2025). Kunjungan kerja ini bertujuan mempelajari pengembangan ekowisata mangrove yang telah berhasil diterapkan di Bali.

Audiensi ini diterima oleh Kepala Bidang Pengembangan, Pemanfaatan, Penggunaan, Perlindungan Hutan dan KSDAE DLHK Bali, Hesti Sagiri, serta Plt Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata Bali, Ida Ayu Nyoman Candra Wati. Dalam paparannya, Ida Ayu menjelaskan bagaimana konsep Tri Hita Karana  dan Sad Kherti diterapkan dalam pengelolaan ekowisata di Bali.

“Pariwisata Bali mengutamakan keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesama. Ekowisata mangrove di Bali dirancang tidak hanya untuk menarik wisatawan, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung kesejahteraan masyarakat lokal,” ungkap Ida Ayu .

Sad Kherti, yang mencakup enam aspek kesejahteraan dan kebahagiaan hidup, menjadi landasan utama pengelolaan pariwisata di Bali, termasuk ekowisata mangrove. Enam aspek ini meliputi: Atma Kherti: Penyucian jiwa; Segara Kherti: Pemuliaan laut dan pantai; Danu Kherti: Pemuliaan sumber air; Wana Kherti: Pemuliaan tumbuh-tumbuhan; Jana Kherti: Pemuliaan manusia; Jagat Kherti: Pemuliaan alam semesta .

Menurut Ida Ayu, penerapan Sad Kherti dalam ekowisata mangrove menekankan pada pemeliharaan keseimbangan antara konservasi alam, kearifan lokal, dan pemberdayaan masyarakat. “Mangrove tidak hanya menjaga ekosistem pesisir, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan budaya yang memperkuat identitas Bali sebagai destinasi pariwisata berbasis budaya,” jelasnya.

Pada aspek lingkungan (Wana Kherti), ekowisata mangrove di Bali menjaga keberlanjutan hutan mangrove sebagai penyangga pesisir, penyaring polutan, serta habitat bagi flora dan fauna. Pada aspek sosial (Jana Kherti), masyarakat lokal dilibatkan dalam aktivitas seperti penanaman mangrove, edukasi wisata, hingga produksi oleh-oleh berbahan dasar mangrove.

Pada aspek spiritual (Segara Kherti), mangrove menjadi tempat pelaksanaan ritual adat seperti melasti dan tumpek uye. Konservasi mangrove ini juga mendukung kegiatan edukasi lingkungan, seperti tour guide dan trekking mangrove, untuk memberikan pengalaman positif kepada wisatawan.

“Ekowisata berbasis Sad Kherti memberikan dampak yang menyeluruh. Ketika semua aspek ini diterapkan, bonusnya adalah pertumbuhan ekonomi yang signifikan dan berkelanjutan,” tambah Hesti Sagiri .

Hesti Sagiri menambahkan bahwa pengelolaan mangrove di Bali melibatkan pemberdayaan masyarakat setempat dengan memanfaatkan mangrove untuk berbagai kegiatan, mulai dari penanaman, wisata edukasi, hingga produk olahan berbasis mangrove.

Nicko Herlambang menyampaikan bahwa pengalaman Bali akan menjadi inspirasi bagi PPU untuk mengembangkan ekowisata berbasis mangrove.

“Kami telah mendapat penjelasan dari Dinas Pariwisata dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, juga dari teman-teman BPDAS Unda Anyar, tentang mekanisme pengembangan ekowisata mangrove mereka. Ini bisa menjadi percontohan untuk kami di Penajam Paser Utara, mengingat potensi mangrove kita juga luar biasa,” kata Nicko.

Nicko menjelaskan bahwa meskipun tantangan di Bali dan PPU berbeda, prinsip konservasi tetap menjadi prioritas. Ia menambahkan bahwa ada banyak inspirasi yang bisa diadaptasi, seperti festival mangrove dan pelatihan ecoprint menggunakan daun mangrove.

“Nanti dalam pertemuan antara Bupati terpilih dengan Pj Bupati, kami akan memaparkan program kerja terkait pelestarian lingkungan, khususnya pengembangan ekowisata mangrove. Ini akan menjadi langkah konkret kami dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan potensi wisata lokal,” tambah Nicko.

Kadis Pariwisata PPU, Andi Wati, menambahkan sekaligus mengungkapkan kekagumannya terhadap pengelolaan ekowisata mangrove di Bali.

“Saya sangat kagum dengan kunjungan kerja ini. Potensi mangrove di PPU seluas 60 hektare juga tidak kalah menariknya. Ini sangat luas dan bisa dikembangkan lebih jauh,” ujar Andi.

Ia menyoroti kegiatan yang dapat diadaptasi di PPU, seperti festival mangrove yang mengangkat kearifan lokal. “Kami akan rapatkan lebih lanjut untuk merancang momen-momen yang tepat, agar festival ini bisa digelar dan berdampak pada kesejahteraan ekonomi masyarakat di sekitar ekowisata mangrove, khususnya di Kampung Baru,” jelasnya. 

Dengan penerapan konsep Sad Kherti dan pengelolaan yang berkelanjutan, mangrove tidak hanya menjadi penjaga ekosistem, tetapi juga penggerak ekonomi. Pemkab PPU berkomitmen untuk memanfaatkan hasil kunjungan ini sebagai acuan dalam merancang kebijakan pengelolaan ekowisata mangrove di daerahnya. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan daya tarik wisata dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Kami berharap kerja sama dan sinergi dengan berbagai pihak, termasuk Pemprov Bali, dapat terus terjalin untuk mendukung pembangunan ekowisata mangrove di PPU,” tutup Nicko. (hms4)




Bagikan: Facebook X LinkedIn
Berita terkait
Tinggalkan Komentar
Komentar akan tayang setelah disetujui admin.